Wajib Tahu, Inilah Tahap Perkembangan Emosi Anak Usia 4-5 Tahun

2 min read

Tahap Perkembangan emosi anak usia 4 - 5 tahun

Dalam tahap perkembangan emosi anak, seiring dengan bertambahnya usia, anak akan semakin dapat mengendalikannya. Tentu hal ini merupakan hal yang menyenangkan sekaligus membingungkan bagi para orang tua, apalagi mereka yang baru saja dikaruniai buah hati pertama.

Beberapa perkembangan anak yang kerap kali membuat orang tua bingung diantaranya ialah perkembangan emosi anak yang semakin kesini akan semakin tidak mudah dalam penanganannya. Terlebih lagi dalam usia 4-5 Tahun.

Baca Juga;

Di usianya ini, anak akan mulai memasuki fase Initiative vs Guilt. Yaitu fase disaat anak akan mulai menunkukkan rasa ingin lepas dari ikatan orang tuanya. Mereka ingin bergerak bebas dan berinteraksi lebih terhadap lingkungannya.

Dorongan rasa ini yang membuat anak memunculkan rasa inisiatifnya secara mandiri, meski begitu tak jarang pula hal ini akan menimbulkan rasa bersalah yang acap kali membuat mereka jadi lebih mudah sedih atau bahkan marah, hanya karena apa yang telah mereka kerjakan tidaklah sesuai dengan yang diharapkan.

Jadi, agar kamu lebih memahami tahap perkembangan emosi anak di usia 4-5 Tahun, dan agar kamu tahu apa yang perlu untuk kamu lakukan demi membentuk karakter emosi anak menjadi lebih baik. Mari simak rangkuman DjoNews.com, berikut!

1. Tahap Perkembangan Emosi Anak Usia 4-5 Tahun

Sudah diketahui semua orang bahwa, usia anak dibawah lima tahun merupakan usia anak dalam bermain. Karena bermain merupakan salah satu kegiatan wajib (primer) yang sangat dibutuhkan bagi anak.

Namun di usia balita ini pula, anak akan mulai mempunyai inisiatif untuk melakukan berbagai hal yang dapat memberikan anak pembelajaran tentang arti ditanggapi dengan baik maupun diabaikan (ditolak atau diterima).

Bila anak menerima tanggapan dengan baik, maka anak akan belajar beberapa hal, diantaranya:

  • Dapat bekerja sama.
  • Memiliki kemampuan menjadi pemimpin.
  • Mampu berimajinasi serta mengembangkan keterampilan.

Pun sebaliknya, anak akan merasa bersalah dan takut saat mereka menerima sebuah tanggapan berupa penolakan. Dan hal inilah yang akan membuat mereka selalu bergantung pada kelompok dan tidak berani mengeluarkan pendapat pribadi.

2. Cara Menstimulus Anak untuk Mengekspresikan Emosi

Dalam presentasi dr. Margareta Komalasari, Sp.A di Popmama Parenting Academy 2020, beliau menyatakan bahwa anak dengan usia lebih dari 3 tahun dapat diberi stimulus yang lebih dibandingkan usia dibawahnya.

Orang tua dapat menambahkan stimulus pada anak dengan mengenalkan huruf serta angka sembari bermain bersama, buang air di toilet, diawasi tanpa perlu bermain bersama saat mereka bermain bersama temannya, dan melakukan hal mandiri lain yang bisa membantu merangsang perkembangan anak, di dalam tahap perkembangan emosi anak tersebut.

Baca Juga:  Fakta Kunyit Menambah Nafsu Makan

Di usia 4-5 tahun, selera humor anak akan mulai terlihat juga. Mereka akan banyak tertawa dan ikut bertingkah lucu agar dapat menarik perhatian sekitar. Dari sinilah mereka juga akan belajar bagaimana berekspresi selayaknya orang dewasa.

3. Cara Membantu Perkembangan Emosional

Agar perkembangan emosional anak berjalan dengan baik, anak di usia 2-3 tahun perlu diajari tentang cara memecahkan masalah, di usia ini pula mereka harus dilatih tentang bagaimana cara menyelesaikan sebuah masalah. Misalnya saja anak berebut mainan dengan temannya, maka ajari mereka untuk bisa menyelesaikan masalah dengan baik tanpa adanya perkelahian.

Selanjutnya didalam tahap perkembangan emosi anak, orang tua juga bisa memberi ruang agar anak dapat mengekspresikan diri. Perlu diketahui bahwa anak merupakan peniru perilaku orang tua dan juga orang yang ada disekitarnya, oleh karenanya mereka akan dengan mudah menirukan perilaku, perkataan, bahkan kebiasaan orang yang dijadikan figur.

Orang tua dapat memanfaatkan hal ini sebagai sebuah efaluasi dengan berbagi cerita bersama anak tentang apa yang telah dilakukannya dalam satu hari ini (misal). Luangkan waktu untuk orang tua dan anak dapat mengobrol santai (berbicara satu dengan yang lain) dengan komunikasi asertif (komunikasi terbuka dengan saling menerima dan memperhatikan). Hal ini dapat dilakukan sesaat sebelum anak tertidur, kegiatan ini juga dapat membuat anak lebih rileks dan siap untuk berbagi ceritanya.

Baca Juga:  Cara Mengatasi Anak Tantrum di Depan Umum

Tak hanya anak saja, orang tua pun dapat menceritakan kesehariannya entah saat senang, sedih, kecewa, atau bahkan perasaan lain yang sedang merundunginya. Saat anak mendengarkan cerita orang tua yang sedang dibagi padanya, maka secara tidak langsung anak akan menirunya dikemudian hari.

Kesimpulan: Tahap Perkembangan Emosi Anak Usia 4 – 5 Tahun

Selain kegiatan yang telah DjoNews jabarkan diatas tadi dapat membantu orang tua dalam menyikapi tahap perkembangan emosi anak, berbagi cerita dan bermain bersama anak juga bukanlah hal yang membosankan. Bahkan, hal ini akan mempererat bonding () antara anak dengan orang tuanya.

Demikianlah informasi yang dapat DjoNews sedikit jabarkan tentang tahap perkembangan emosi anak dan juga cara memberikan stimulus yang dapat dilakukan para orang tua dalam membentuk emosi yang baik bagi buah hati.

Semoga bermanfaat, dan ikuti kami agar kamu bisa mendapat info menarik dan bermanfaat lainnya!

Baca Juga;

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *