Rumah Sakit di Semarang di Duga Lakukan Malapraktik

oleh
Jevry Chrisian Harsa bersama kuasa hukumnya melakukan konferensi pers usai melaporkan rumah sakit yang diduga melakukan malapraktik.

Semarang – Sebuah rumah sakit di Kota Semarang terpaksa dilaporkan ke Polda Jateng lantaran diduga melakukan malapraktik.Pelapor adalah  Jevry Chrisian Harsa (24) warga Kabupaten Kendal, Jawa Tengah yang mencari keadilan atas kelumpuhan sang istri usai melahirkan anak pertama.

Ketika melakukan pelaporan Jevry Chris ditemani oleh kuasa hukumnya yang menjelaskan kronologi awal sebelum sang istri yang bernama Ningrum Santi (23), lumpuh.

Kuasa hukum Jevry, Iput Prasetyo Wibowo, mengatakan pada 27 Mei 2020 Jevry dan Ningrum di sebuah rumah sakit di Jalan Pandanaran, Semarang, untuk mempersiapkan persalinan dan kemudian diminta menginap.

“Kamis, 28 Mei 2020 sekitar pukul 12.00 WIB pasien atas nama Ningrum Santi menjalani operasi caesar di RS Hermina. Sekitar satu jam kemudian klien kami mendapatkan kabar istrinya mengalami henti jantung. Berdasarkan keterangan klien kami, henti jantung itu disebabkan oleh tindakan penyuntikan yang dilakukan tim dokter,” katanya, Selasa (16/2/2021).

Saat itu, lanjutnya, Jevry dipersilakan melihat kondisi bayi laki-laki yang baru saja dilahirkan istrinya. Namun menurut Jevry, saat itu bayi terlihat kesulitan bernapas dan sudah membiru.

Baca Juga:  Cekcok Berujung Maut, Pelaku Ditangkap Enam Jam Setelah Kejadian

“Atas kondisi tersebut, pihak rumah sakit membawa istri klien kami dan bayi untuk menjalani perawatan secara intensif di ICU/NICU,” ujarnya.

Pada Jumat (29/5) pagi, sang bayi meninggal dunia sedangkan Ningrum koma dan tidak sadarkan diri di ICU. Kondisi itu berlangsung selama tiga bulan hingga akhirnya Ningrum sadar, tapi kondisinya lumpuh.

“Selama tidak sadarkan diri, istri klien kami atau pasien mengalami penurunan daya tahan tubuh, tidak mampu menggerakkan tubuh atau lumpuh, penyusutan massa otot, serta perlambatan kemampuan otak. Informasi ini disampaikan oleh dokter,” ujarnya.

Pada 31 Desember 2020, pihak rumah sakit meminta agar Ningrum bisa dirawat di rumah sekaligus untuk mengganti suasana. Iput menjelaskan pihak rumah sakit berjanji akan melakukan kunjungan dua kali seminggu, namun ternyata hanya seminggu sekali.

“Sekarang bahkan dua minggu sekali,” tegasnya.

Jevry berusaha mencari keadilan dengan mengadukan ke Polda Jawa Tengah dengan dugaan malapraktik dan mengajukan gugatan. Hal itu dilakukan karena mediasi tidak menghasilkan titik temu, pihak pasien belum tahu penyebab kematian bayi, dan juga kelumpuhan Ningrum berdampak pada perekonomian keluarga karena Jevry jadi tidak bisa meninggalkan istrinya itu.

Baca Juga:  Naikkan Nilai UMKM, Pertamina Salurkan Bright Gas

“Selama menjalani perawatan di rumah maupun rumah sakit, pihak kuasa hukum sudah melakukan upaya mediasi namun tidak ada titik temu,” jelasnya.

Sementara itu, Jevry berharap istrinya bisa sembuh karena sebelumnya tidak memiliki penyakit bawaan apapun. Selain itu selama pemeriksaan kandungan, kondisi bayi dan istrinya sehat.

“Semenjak istri saya lumpuh, saya tidak bisa bekerja, istri saya juga tidak bekerja. Biaya yang dikeluarkan selama ini sekitar Rp 250 juta. Saya berharap istri saya bisa sembuh,” ujar Jevry bergetar sembari memegang foto istrinya yang terkulai di kasur.

Upaya pengaduan ke Polda Jateng dilakukan bulan Juni 2020. Saat dimintai konfirmasi, Kasubdit I Ditreskrimsus Polda Jawa Tengah Asep Mauludin mengatakan kedua belah pihak sudah dimintai keterangan untuk bekal penyelidikan dan gelar perkara.

“Kita masih penyelidikan, sudah beberapa bulan kan ini. Sudah ada yang kita mintai keterangan. (Pihak rumah sakit dimintai keterangan) Iya sudah. Rangkaian kegiatan penyelidikan baru hasilnya untuk gelar nanti,” kata Asep saat dihubungi wartawan via sambungan telepon hari ini.

Baca Juga:  Tetap Jaga Prokes, UIN Walisongo Bagikan Masker

Sementara itu, pihak rumah sakit melalui humas belum merespons saat dimintai konfirmasi via pesan atau panggilan telepon hingga malam hari ini. Ketika mencoba konfirmasi ke rumah sakit, ternyata tidak bisa menemui siapapun dan hanya berhenti sampai petugas keamanan.