Pertanyaan “Berbahaya” yang Tak Perlu Ditanyakan Orang tua kepada Anak

oleh -

Pertanyaan retoris yang sebetulnya tak akan mengubah kondisi jadi lebih baik, bagi orang tua terkadang tingkah polah anak membuat kesal. Mulai dari pertengkaran antar saudara, pilih-pilih makanan hingga perilaku agresif yangmeledak-ledak.

Menyikapi perilaku anak yang dinamis dengan teguran, orang tua berharap anak dapat menyadari kesalahannya. Namun, kenyataannya terkadang teguran disampaikan tidak berupa pernyataan, melainkan petanyaan retoris.

Pertanyaan yang sebetulnya sudah diketahui jawabannya, tetapi terus ditanyakan orang tua pada anak.

Padahal pertanyaan-pertanyaan ini sebetulnya tak perlu ditanyakan pada anak. Mengapa? Berikut Djonews.com merangkum 5 pertanyaan retoris yang tak perlu ditanyakan orang tua, dilansir dari newbornsplanet.com :

Kenapa Kalian Bertengkar Terus?

Pertengkaran antar saudara memang jadi makanan sehari-hari bagi orang tua yang punya anak lebih dari satu.

Baca Juga :   5 Cara Membangun Kebiasaan Anak Makan Sehat

Seringkali pertengkaran yang terjadi membuat orang tua frustasi. Setiap orang tua pasti membayangkan hubungan antar saudara yang saling menyayangi dan rukun.

Tetapi, sebetulnya pertengkaran antar saudara adalah hal yang wajar. Di sisi lain, pertengkaran antar saudara ini juga mengajarkan banyak hal pada anak, seperti negosiasi dan belajar tentang menang-kalah.

Jadi, pertanyaan di atas tak perlu ditanyakan, karena anak sendiri pun tentu tak tahu jawabannya.

Kenapa Makanannya Tidak Dihabiskan?

Melihat piring anak masih menyisihkan banyak makanan, rasanya secara otomatis mulut menanyakan pertanyaan di atas.

Tapi, tahukah kamu? pertanyaan ini tidak akan membawa perubahan apapun pada nafsu makan dan perilaku anak di waktu makan.

Cara yang jauh lebih baik untuk mengajukan pertanyaan adalah dengan memberikan pilihan, “Besok, kira-kira pengen makan sayur apa?” Atau “Kakak lebih suka makan telur rebus, ceplok atau dadar?”

Kenapa Mainannya Tidak Dibereskan?

Rumah dipenuhi dengan mainan yang berserakan di seluruh sudut rumah. Meski sudah dibereskan berulang kali dalam sehari, tetap saja anak sulit diminta merapikan sendiri mainannya setelah dimainkan.

Baca Juga :   5 Langkah Mudah Mengajarkan Anak Membaca Tanpa Mengeja

Biasanya pertanyaan tersebut ditanggapi anak dengan ogah-ogahan, sekedar menjawab seadanya, seperti “iya, aku lupa,” atau bahkan berlalu pergi tanpa menjawabnya.

Pertanyaan ini akan ditanggapi anak sebagai pertanyaan yang ‘apapun-jawabannya-aku-pasti-salah’. Akan lebih membangun jika kamu sebagai orang tua menanyakan pertanyaan seperti “Adek lupa beresin, nih? Yuk, Papa bantu?” Cara ini akan mendorong anak untuk memikirkan solusi yang berpeluang lebih sukses diterapkan di kemudian waktu.

Sudah Cukup atau Belum Jajannya?

Anak tidak tahu dan mungkin belum bisa mengerti mengapa ia dilarang makan cokelat atau permen terlalu banyak. Mereka tidak memikirkan perkara kalori atau pun bahayanya mengonsumsi gula.

Yang mereka tahu hanyalah cokelat dan permen itu enak.

Jadi, ketimbang, kesal sendiri karena anak tidak bisa mengontrol dirinya makan cokelat atau permen, terapkan batasan yang jelas.

Baca Juga :   Tips Cerdas Memanfaatkan Handphone Untuk Pendidikan

Berapa coklat atau permen yang boleh dimakan per harinya, dan jelaskan dengan bahasa yang sederhana mengapa kamu sebagai orang tua membatasinya makan makanan manis demi kesehatannya.

Kenapa Kamu Bersikap Seperti Itu?

Dari semua pertanyaan retoris yang diajukan, ini adalah pertanyaan yang paling tidak berguna.

Karena siapa pun tidak dapat menjawabnya, sekalipun anak kamu.

Akan sia-sia mengharapkan anak mengetahui motif di balik tindakan mereka, bahkan para ahli pun belum tentu bisa menjelaskannya.

Hindari pertanyaan ini. Mintalah bantuan pasangan untuk mengendalikan perilaku anak, atau rujuk anak ke terapis jika diperlukan karena perilaku yang sulit dikendalikan.

Parenting bukanlah ilmu pasti yang dapat diterapkan dengan hasil yang sama pada semua anak dan keluarga.

Namun, lewat pengalaman dan berbagai penyesuaian, niscaya orang tua akan bisa memahami tipe pengasuhan yang paling tepat diterapkan untuk anak-anaknya.

Semoga bermanfaat!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *