Laporan Keuangan Bukalapak Bermasalah

  • Bagikan
Bukalapak.(dok: ist)

Djonews.com, KEUANGAN – PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) memberikan penjelasan terkait laporan keuangan yang kembali bermasalah. Dalam laporannya untuk kuartal I-2022 kembali dicecar oleh otoritas Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga dua kali yakni di tanggal 17 Mei 2022 dan 23 Mei 2022.

Hal yang tersorot terkait  nilai investasi di entitas anak di mana satu juta dolar AS dicatatkan sebagai satu miliar dolar AS oleh manajemen.

Melihat dari data keuangan Bukalapak pada kuartal I-1011 yang tidak diaudit menunjukkan adanya laporan yang mencolok, yakni laporan laba rugi.

Sebelumnya, Bukalapak tercatat merugi hampir Rp 328 miliar pada 31 Desember 2021 namun tiba-tiba berbalik untung menjadi Rp 14,4 triliun.

Pembalikan laba yang fantastis itu dikarenakan Bukalapak mencatatkan laba nilai investasi yang belum dan sudah terealisasi sebesar hampir Rp 15,5 triliun.

Padahal pos tersebut berisi tentang investasi perseroan di saham PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI) di mana Bukalapak melakukan pembelian BBHI di harga rights issue yakni Rp 478/unit sehingga membukukan unrealized gain karena harga BBHI di market jauh lebih tinggi dari harga tersebut

Pada praktiknya biasanya hanya perusahaan investasi seperti PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) yang menggunakan sistem pencatatan seperti ini karena bisnis utama perseroan adalah perusahaan investasi yang mencari untung dengan transaksi efek.

Namun karena Bukalapak bergerak di sektor teknologi utamanya pengelola situs lokapasar maka pencatatan laporan keuangan Bukalapak yang mencatat unrealized gain di BBHI sebagai laba dicecar Bursa apalagi mengingat kepemilikan BBHI milik Bukalapak tidak dapat dijual hingga 3 tahun ke depan.

Sebelumnya, pihak regulator meminta Bukalapak untuk menyampaikan keterbukaan informasi yang dipublikasikan pada 17 Mei 2022.

Baca Juga:  Begini Cara Atur Keuanganmu Jelang Bulan Ramadan

Pada poin pertanyaan kedua, BEI meminta pihak Bukalapak menjelaskan dasar pertimbangan perseroan mengklasifikasikan investasinya di BBHI melalui pendekatan Fair Value through Profit or Loss (FVTPL) sebagaimana tertuang dalam PSAK 71.

Pihak Bukalapak pun menjawab bahwa yang dimaksud dalam PSAK 71 poin 4.1.2, aset keuangan diukur pada biaya perolehan diamortisasi jika dua kondisi terpenuhi yaitu aset keuangan dikelola untuk mendapat arus kas kontraktual dan aset keuangan tersebut memberikan hak pada tanggal tertentu atas arus kas kontraktual dari pembayaran bunga dan pokok utang.

Sedangkan berdasarkan PSAK 71 poin 4.1.2A, aset keuangan diukur pada nilai wajar melalui penghasilan komprehensif lain jika kedua kondisi berikut terpenuhi yakni aset keuangan dikelola dalam model bisnis yang tujuannya akan terpenuhi dengan mendapatkan arus kas kontraktual dan menjual aset keuangan dan persyaratan kontraktual dari aset keuangan tersebut memberikan hak pada tanggal tertentu atas arus kas yang semata dari pembayaran pokok dan bunga dari jumlah pokok terutang.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

adplus-dvertising