Kolang –Kaling, Jajanan Khas Pada Bulan Ramadan

oleh
Produksi Kolang Kaling di Kota Semarang. -ist

Djonews.com – Siapa yang tidak asing dengan kolang-kaling. Buah sajian khas ramadan ini sukses membuat setiap orang yang mencicipinya selalu ketagihan. Berbuka dengan olahan kolang kaling nyatanya menyegarkan. Tekstur buahnya sedikit empuk dan kenyal. Sajian kolak, es buah, manisan berbahan kolang-kaling selalu dirindukan setiap orang.

Siapa sangka, perlu perjuangan agar kolang-kaling bisa menemani menu berbuka saat Ramadan. Salah satu tempat produksinya ialah desa Jatirejo, Gunungpati, Semarang. Telah ada selama puluhan tahun, membuat desa Jatirejo jadi penghasil kolang-kaling terbesar di Semarang.

Daging buah putih mungil ini harus melewati proses yang panjang dan melelahkan. Pasalnya, butuh waktu 5 hari untuk sekali produksi. Mulai dari pemilahan buah, pengupasan, perebusan dan pemipihan serta perendaman. Semua proses yang panjang harus dilalui secara bertahap dan berurutan.

Sesekali bercengkerama, para pekerja mulai melepas tangkai dari buahnya. Buah pohon aren ini termasuk dalam jenis palmae. Layaknya kelapa, daging buah pohon aren diselimuti kulit yang keras. Satu tangkai, bisa menghasilkan puluhan buah kolang-kaling. Butuh parang yang tajam untuk memisahkan buah dari tangkainya.

Baca Juga:  Dua Kali Dalam Sehari Terjadi Longsor

Cukup menguras tenaga, pasalnya dalam sekali musim panen mereka bisa memproduksi 10 ton buah kolang-kaling. Tahap selanjutnya ialah proses perebusan. Butuh waktu 2 jam agar daging buah lunak dan mudah dikupas. Nyala api harus tetap dijaga. Kolang-kaling juga secara bertahap diaduk agar matang merata. Tungku perebusan menghitam menandakan panasnya api pembakaran.

Kolang-kaling kemudian diangkat dan ditiriskan. Mempercepat pendinginan, mereka biasanya menyiram rebusan kolang-kaling dengan air dingin. Dalam satu buah kolang-kaling, di dalamnya terdapat 2 butir daging buah. Setelah dingin, buah akan segera dikupas. Buah hijau ini dibelah lalu dicongkel daging buahnya. Menghasilkan daging buah putih pucat yang nikmat.

Setelah dicuci bersih, daging buah kolang-kaling harus melalui tahap pemipihan. Pemipihan atau penggeprekan bertujuan menghasilkan tekstur buah kolang-kaling yang lunak. Selain itu pemipihan juga bermaksud agar air perendaman mudah masuk ke daging buah.

Proses pemipihan ini unik, menggunakan pemukul berbentuk semacam barbel. Pemukul kayu dibuat besar agar memudahkan penekanan buah kolang-kaling. Mereka menempatkan 5-10 butir di atas dudukan batu, kemudian menekannya hingga pipih. Pemipihan kolang-kaling cukup menguras tenaga. Ratusan ribu buah kolang-kaling tiap harinya mereka pipihkan.

Baca Juga:  Laporkan Penerbit, Cegah Ajaran Menyesatkan

Tahap selanjutnya adalah proses perendaman. Daging buah yang telah dipipihkan selanjutnya direndam dengan air bersih. Bak-bak besar perendaman disiapkan. Kolang-kaling yang telah dipipihkan dimasukkan ke dalam bak perendaman. Proses perendaman bertujuan agar zat asam berkurang. Setidaknya 4 hari kolang-kaling direndam hingga layak didistribusikan.

Berada di selatan objek Wisata Goa Kreo, desa Jatirejo mampu mencukupi kebutuhan kolang-kaling di Kota Semarang bahkan Jepara dan Pekalongan. Harga yang ditawarkan cukup murah. Satu kilogram kolang-kaling dijual Rp 10 ribu kepada pengepul.

Para produsen kolang-kaling mendapatkan buah aren dari Purwokerto, Pekalongan, Temanggung, Parakan, dan Banjarnegara. Setidaknya ada 20 tempat industri pembuatan kolang-kaling.

Hampir memenuhi satu kampung. Saking banyaknya, pada tahun 2017, Jatirejo diberi nama Kokolaka, atau Kampung Olahan Kolang-kaling. Dari tangan mereka, buah kolang-kaling menyegarkan dihadirkan. Menemani sajian ramadan yang sehat dan kaya manfaat.*