, ,

Gelombang Laut Tinggi , Nelayan Enggan Melaut

oleh -
Nelayan enggan melaut karena adanya gelombang tinggi akhir-akhir ini.
Nelayan enggan melaut karena adanya gelombang tinggi akhir-akhir ini.

Djonews.com – Semarang, Masyarakat pesisir pantai cukup memperihatinkan ditengah-tengah pandemi Covid-19. Salah satunya dialami nelayan tradisional di Kampung Tambaklorok, Kota Semarang. Keprihatinan itu akibat ancaman gelombang tinggi yang berpengaruh pada hasil tangkapan ikan

Salah satunya, Sabar ,48, yang mengaku harga jual ikan saat memang perlahan-lahan mulai membaik. Hanya saja apabila dibanding, harga jual ikan saat awal-awal pandemi memang mengalami penurunan.

“Tapi kalau hitungan saat pandemi ini, harga sudah mulai normal dikit-dikit. Dibandingkan kemarin pas awal-awal pandemi Corona itu,” kata Sabar, disela-sela mencari ikan, Rabu (8/7).

Sabar menerangkan, saat ini harga ikan teri sudah mencapai Rp 10 ribu per kilonya. Di mana sebelum pandemi, Ikan Teri memiliki harga jual Rp 15 ribu per kilonya. Lalu ikan Petek, saat ini Rp 3 ribu perkilonya. Sebelumnya hanya dihargai Rp 5 ribu perkilonya. Menurutnya hal itu sudah cukup membaik karena saat kabar Covid-19 mulai menyebar harganya lebih dibawah standar. Namun demikian, Sabar mengungkapkan, jika saat ini tangkapan ikan bisa dibilang masih sedikit.

Baca Juga :   Jateng Tetapkan Status Tanggap Darurat Bencana Corona

“Tadi malam saja, kami cuma dapat 60 kilogram, tangkapan kita ikan ikan kecil saja. Setelah dijual, semua kru kapal dapat uang hasil penjualan Rp 40 ribu per orang. Sedangkan tadi malam kita berangkat 10 orang, jadi hasil tangkapan sudah di potong biaya operasional kapal,” jelasnya.

Pihaknya juga memiliki kekhawatiran karena merasakan sendiri tingginya gelombang air laut. Hal itu pula yang membuatnya was-was melaut, apalagi jangkauan kapal tradisional hanya pada radius sekitar 4 KM. Dikatakannya, mayoritas nelayan di Tambaklorok pergi mencari ikan di saat malam hari, tentunya lebih khawtair adanya gelombang air. Selain itu para nelayan mayoritas menggunakan kapal ukuran kecil segingga tidak berani untuk melaut.

Menyalinkode AMP
Baca Juga :   Tawuran Bawa Sajam, Seorang Remaja Di Tahan

“Kami biasanya berangkat jam 7 malam pulang jam 3 pagi. Karena kalau siang sampai sore gelombangnya lebih tinggi. Jadi kami nggak berani kalau ombaknya besar, apalagi kemampuan kapal ukuran kecil terbatas, makanya kalau malam itu kita banyak muter-muter aja di laut cari gerombolan ikan,”sebutnya.

Sementara itu, nelayan lain yang bernama Ardi ,40, mengeluhkan hasil penjualan ikan yang menurun di masa Covid-19 ini. Dia mencontohkan dengan harga ikan teri yang semula per Kg dihargai Rp15.000 kini hanya Rp10.000. Ikan petek yang normalnya Rp5.000 sekarang Rp3.000. Begitu pula harga ikan teri nasi yang harusnya bisa Rp40.000 anjlok menjadi Rp25.000.

Baru-baru ini, BMKG Stasiun Maritim Tanjung Mas Semarang juga telah merilis peringatan dini gelombang setinggi 1,25 m sampai 2,5 m yang berpeluang terjadi di perairan Jawa bagian tengah. Peringatan tersebut berlaku dari 7-9 Juni 2020.lius

Baca Juga :   PKB Usung Hendi – Ita Pada Pilwakot Semarang

Baca Berita Harian Semarnag DiBaca Berita Harian Semarnag Klik Disini

Menyalinkode AMP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *