fbpx
Lifestyle

Dua Warga Semarang Pilih Akhiri Hidup di Masa PPKM Darurat

Djonews.com, SEMARANG  – Selama masa PPKM Darurat yang ada di Kota Semarang ternyata menimbulkan tragedi. Setidaknya ada dua warga Kota Semarang memilih hidupnya untuk gantung diri karena merasa tidak sanggup menghadapi hidup yang tambah sulit.

Terdapat dua kejadian dengan motif yang berbeda. Satu karena adanya desakan ekonomi sedangkan satu korban meninggal karena frustasi karena isolasi mandiri di rumah.

Kejadian pertama yakni menimpa korban Adi Saputro (29) ditemukan gantung diri di dalam kamarnya. Warga asal Jolotundo 10, Sambirejo, Kecamatan Gayamsari Kota Semarang ini tewas menggantung di kayu atap rumahnya.

image 2021 07 15 171832 - Dua Warga Semarang Pilih Akhiri Hidup di Masa PPKM Darurat
FOTO : Inafis Polrestabes Semarang lakukan pemeriksaan luar tubuh Cahyo Adi Saputro (29) setelah ditemukan gantung diri di kamar rumah jalan Jolotundo Kelurahan Sambirejo, Kecamatan Gayamsari, Semarang. (Dokumentasi Polrestabes Semarang)

Ketika ditemukan, korban hanya mengenakan celana kolor dan bertelanjang dada. Menurut informasi korban mengalami desakan ekonomi.

“Yang pasti ekonomi. Korban mungkin merasa terdesak lalu pilih akhiri hidup,” ujar Tonex tetangga korban.

Kejadian kedua, korban berinisial WH (46) warga Srondol Kulon, Kecamatan Banyumanik Kota Semarang ini ditemukan tewas menggantung di kamarnya pada Kamis (15/7/2021) pukul 08.00 WIB.

Menurut penuturan warga korban meninggal  bukan karena terhimpit ekonomi melainkan mengalami frustasi karena dirinya sedang menjalani isolasi mandiri.

image 2021 07 15 172048 - Dua Warga Semarang Pilih Akhiri Hidup di Masa PPKM Darurat
FOTO : Tim medis dan kepolisian saat melakukan pemeriksaan jenazah korban yang alami stres saat jalani isolasi mandiri, Kamis (15/7/2021) (Dokumentasi Polrestabes Semarang)

Ketua RT 7, Widodo mengungkapkan meninggalnya korban WH di duga kuat karena frustasi dirinya terpapar Covid-19 sehingga diwajibkan isolasi mandiri.

“Ga ada masalah apapun sebelumnya baik masalah keluarga, ekonomi atau lainnya,” terangnya.

Menanggapi hal itu, Psikolog RS Elisabeth Semarang, Probowatie Tjondronegoro mengatakan,persoalan bunuh diri jangan dianggap remeh. Tekanan bisa didapat dari diri sendiri maupun lingkungan. Apalagi di saat pandemi Covid-19 yang rentan terkena stres.

“Bunuh diri satu orang pun sudah terhitung mengkhawatirkan sehingga perlu perhatian semua pihak, Stres itu tak bisa dihindari semua itu tergantung individu dalam melakukan manajemen stres atau mengelola stres ” terangnya.

Dalam mengelola stres, kata dia, dapat dilakukan dengan menghindari sumber stres. Dapat pula merubah persepsi sumber stres dengan rasa humor dan pribadi yang positif. Kemudian merubah gaya hidup yang sehat dan menerima dukungan sosial yang datang.

“Banyak laki-laki yang melakukan bunuh diri karena tak bisa mengobrol dengan lingkungan sosial berbeda dengan wanita yang lebih terbuka dalam menceritakan masalah,” paparnya.

Dia meminta perhatian lingkungan terkecil yakni keluarga agar selalu memperhatikan orang terdekat terkait sikap-sikapnya. Terutama mengenali gejala stres dari perubahan sikap korban seperti cepat marah dan di luar sikap kewajaran lainnya.fer

Tag: , ,
avatar

Kunairoh

An editor at Berita Semarang Hari Ini
View Articles

Bagi sedikit informasi biografi untuk mengisi profil Anda. Ini akan ditampilkan kepada publik.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan artikel ini

Categories