,

Cara Membantu Anak yang Dijauhi Teman

oleh -

Selama ini banyak orang mengangap tindakan perisakan atau bullying sebagai konflik face-to-facce. Perilaku yang ditangkap jelas sebagai tinddakan bullying misalnya mendorong, memukul, menjambak ddan berbagai kekerasan fisik lain.

Selain kekerasan fisik, tindakan bullying juga akrab dikenal masyarakat misalnya mencemooh, memanggil nama dengan tidak sopan, menjadikan anak sebagai obyek bercandaan yang inimidatif dan lan-lain.

Namun, ada bentukk intimidasi lain yang terkesan lebih halus yang disebut agresi relasional. Bentuk intimidasi ini berupa penolakan dan pengucilan anak. Biasanya jenis intimidasi ini dialami oleh anak jelang remaja hingga sekolah menengah atas, bahkan seringkali dialami oleh orang dewasa di tempat kerja.

Penolakan Sosial, Luka Batin Seumur Hidup

Mengatasi penindasan seperti ini bukanlah hal yang mudah bagi orang dewasa, apalagi anak-anak. Jika tak segera ditangani, penindasan ini dapat berbuah luka batin hingga depresi yang bahkan memicu anak bunuh diri. Mengapa? Karena di usiaa pra-remaja hingga remaja, teman sebaya merupakan hal yang penting dalam kehidupan seorang anak.

Dampak dari penolakan dan pengucilan ini akan melukai anak secara emosional. Bahkan berpengaruh pada nilai akademisnya. Jika seorang anak remaja bertumbuh menjadi orang dewasa yang pernah mengalami penolakan dan tidak tersembuhkan, ia akan terbentuk menjadi sosok yang merasa dirinya tidak berharga, tidak bernilai, rendah diri dan terbuang.

Menyalinkode AMP
Baca Juga :   Pengaruh Gadget bagi kesehatan yang Harus Anda Ketahui

Kita tak dapat menghndari terjadinya gesekan dalam kehidupan sosial. Tetapi, jika saat ini anak mengalami intimidasi jenis ini, berikut Djonews.com punya beberapa tips untuk membantu orang tua mengatasi masalah yang dihadapinya, dilansir dari vewrywellfamily.com :

1. Hargailah Perasaanya

Ketika anak berani terbuka tentang pengalaman menyakitkan yang dialaminya, pastikan ia merasa aman dan nyaman berbagi perasaanya dengan kamu sebagai orang tuanya. Hindari bereaksi berlebihan atau berniat menghadapi sang pelaku tanpa izin anak.

Jangan pula mempermalukan anak karena ia diasingkan. Hindari mengatakan padanya bahwa ia harus berani melawan, ahrus lebih keras berusaha agar disukai lingkungan sosialnya. Alih-alih melakuka hal tersebut, fokuslah pada mendengarkan ceritanya dan berempati terhadap perasaannya. Berikan pemahaman padanya, bahwa tak seorang pun boleh dikucilkan dan berikan pandangan padanya bahwa ia berharga dan punya banyak hal yang bisa dilakukannya untuk orang sekitar.

2. Diskusikan Tentang Apa yang Bisa Dikendalikan dan Tidak

Dikucilkan, ditolak, dijauhi adalah hal-hal yang tak dapat kita kendalikan.. Begitu pula apa yang dikatakan dan dipikirkan orang lain terhadap kita. Tekankan pada anak tentang hal yang tidak bisa dikendalikan ini. Tapi, dia bisa mengendalikan bagaimana ia merespons tindakan intimidasi ini.

Baca Juga :   Cara Mudah Membuat Rumah-Rumahan Kardus

Bukalah ruang diskusi dengannya untuk menghasilkan ide-ide tentang bagaimana menangani situasi yang tidak enak dan mengatasi intimidasi yang ditujukan padanya. Cara ini akan meminimalisir perasaan tak berdaya. Sebaliknya, anak akan merasa lebih percaya diri dan berdaya dengan berbagai pilihan yang berbeda.

3. Dorong Anak Keluar dari Perasaan Teraniaya

Sangat mudah jatuh ke dalam perasaan teraniaya alias victim-thinking saat menghadapi masalah ini. Jika terus-terusan terjadi, dapat menghambat anak menjadi pribadi yang kuat dan solutif menghadapi masalah.

Memang, yang dialami tidak adil dan menyakitkan. Tetapi tidak berarti ia ‘boleh’ terus berkubang dalam perasaan duka dan menjadi korban selamanya. Dorong anak untuk lepas dari situasi ini sehingga masalah ini tidak mendefinisikan dirinya sebagai seorang anak yang lemah.

4. Beri Saran dan Jangan Turun Tangan

Sebagai orang tua, kami paham jika kamu mungkin merasa tidak tega dan marah terhadap apa yang dialami. Tetapi, tahan keinginan untuk mengambil alih situasi ini, tidak peduli seberapa besar dorongan dari dalam hati orang tua.

Untuk anak-anak jelang remaja, masalah ini bisa menjadi cara melatihnya menangani situasi dan mencari solusi atas permasalahan pribadi. Hindari memanggil orang tua sang pelaku bullyinng tanpa sepengetahuan dan seizin anak. Tunjukkan padanya bahwa kamu percaya ia dapat mengambil keputusan terbaik. Hal ini akan membangun kembali harga dirinya dan melatih ketegasannya.

Baca Juga :   8 Hal Sebaiknya Tak Dikatakan pada Anak

5. Membentuk Lingkungan Pertemanan yang Sehat

Lingkungan pertemanan yang sehat adalah salah saatu cara terbaik mencegah intimidasi. Memiliki setidaknya satu teman yang loyal akan menumbuhkan rasa memiliki pada anak, yang bisa menghapus dampak penolakan di lingkungan sebelumnya. Carilah cara-cara yang dapat membantu anak mengembangkan lingkungan pertemanannya.

Dorong ia berteman di tim olahraga, di sekitar rumah atau kegiatan lainnya. Berikan pemahaman padanya bahwa orang-orang yang tidak mengacuhkannya bukanlah satu-satunya. Ia masih punya teman-teman baik yang potensial di luar sana. Alih-alih memusatkan perhatian pada apa yang dilakukan sang pelaku bullying padanya, sebaiknya mencurahkan perhatian dan tenaga untuk mengendalikan situasi dengan cara mencari teman baru sebanyak-banyaknya.

Peranan orang tua sangat penting menghadapi masa sulit ini. Pada dasarnya, anak hanya membutuhkan dukungan, butuh didengar dan empati. Namun, ia juga butuh didorong agar kuat. Biarkan ia tahu orang tua dan keluarga ada di belakang untuk mendukungnya, tetapi ia juga punya kekuatan dan kemampuan untuk mengatasi situasi ini.

Semoga tips ini menginspirasi keluarga kamu, ya!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Menyalinkode AMP